Makalah Surat Al-Baqoroh 29


BAB  I
PEMBAHASAN
1.    Ayat-ayat tentang alam
a.     Al-baqoroh 29
 هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلىَ السَّمَآءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمُُ ( ٢)
29.  Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.
Tafsir:
(029. (Dialah yang telah menciptakan bagimu segala yang terdapat di muka bumi) yaitu menciptakan bumi beserta isinya, (kesemuanya) agar kamu memperoleh manfaat dan mengambil perbandingan darinya, (kemudian Dia hendak menyengaja hendak menciptakan) artinya setelah menciptakan bumi tadi Dia bermaksud hendak menciptakan pula
(langit, maka dijadikan-Nya langit itu) 'hunna' sebagai kata ganti benda yang dimaksud adalah langit itu. Maksudnya ialah dijadikan-Nya, sebagaimana didapati pada ayat yang lain, 'faqadhaahunna,' yang berarti maka ditetapkan-Nya mereka, (tujuh langit dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu) dikemukakan secara 'mujmal' ringkas atau secara mufasshal terinci, maksudnya, "Tidakkah Allah yang mampu menciptakan semua itu dari mula pertama, padahal Dia lebih besar dan lebih hebat daripada kamu, akan mampu pula menghidupkan kamu kembali?" )
            Bahwa Allah SWT setelah merinci ayat-ayat-Nya tentang diri manusia dengan mengingatkan awal kejadian, sampai kesudahannya dan menyebutkan bukti keberadaan serta kekuasaan-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, kemudian Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya atau bukti lain yang ada dicakrawala melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit da bumi, untuk menunjukka kekuasaa-Nya yang meliputi segala-galanya da menunjukkan betapa banyak karunia-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan segala yang ada di umi sebagai bekal da persediaaan untuk dimanfaatkan.

Penjelasan:
Menurut Syekh Ahmad Musthofa Al-Maraghi, makna ayat 29:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا (Dialah Tuhan yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu) .
Dalam memanfaatkan benda-benda di bumi ini, dapat dilakukan denga cara:
1.      Memanfaatkan benda-beda itu dalam kehidupan jasadi untuk memberikan potensi pada tubuh ataukepuasan padanya dalam kehidupan duniawi.
2.      Dengan memperhatikan benda-benda yang tidak dapat diraih oleh tangan secara langsung untuk digunakan sebagai bukti tentang kekuasaan penciptaan dan dijadikan santapan rohani.
            Denga ayat ini kita mengetahui bahwa pada dasarnya memanfaatkan segala benda di bumi ini dibolehkan.
ثُمَّ اسْتَوَى إِلىَ السَّمَآءِ (kemudian Dia meuju Langit), yaitu:
Kata Samaa artinya sesuatu yang jauh berada diatas kepala kita. Dan kata Istawaa berarti langsung menuju tujuan tanpa kecenderungan mengerjakan sesuatu yang lain di tegah-tengah menciptakannya.
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ (lalu menciptakan tujuh langit) yaitu:
Maksud dari ayat tersebut, Allah menyempurnakan penciptaan langit hingga menjadi tujuh langit.
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمُُ (lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu) yaitu:
            Allah pencipta segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Dan jangkauan pegetahuan-Nya yang menyeluruh ini sama dengan jangkaua-Nya yang menyeluruh bagi pengatura-Nya. Hal ini mendorong keimanan kepada Tuahan Yang Maha Pencipta lagi Easa, memotivasi beribadah kepadan-Nya.
Setelah Allah swt menyebutkan bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, lalu Dia menyebutkan bukti lain melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaaan langit dan bumi.
  • : (Syaikh Abu Bakar al-Jazairy berkata): “yakni; Dia telah menciptakan bagi kamu semua apa yang ada di muka bumi agar kamu dapat menghimpun kekuatan untuk berbuat ta’at, bukan untuk berbuat maksiat”. [Ays]
Menurut riwayat Ali ibnu talhah dari ibnu Abbas disebutkan bahwa penghamparan bumi dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi.
Dan di dalam ayat 13 Surah Al-Jaatsiyah, dikatakan, "Dia menciptakan bagi kalian segala yang ada di langit dan di bumi."

b.      Ibrahim 32-34
الله الذى خلق السموات والأرض وأنزل من السماء ماء فأخرج به, من السمرات رزقا لكم , وسخر لكم الفلك لتزري فى البحر بأمر , وسخر لكم الأنهر (٣٢)  وسخر لكم الشمس والقمر دا ئبين , وسخر لكم اليل والنهار (٣٣)  وءا تكم من كل ما سألتموه , وان تعدوا نعمت الله لا تحصوها , ان الانسان لظلوم كفار (٣٤)
32.  Allah-lah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan dia Telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
33.  Dan dia Telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan Telah menundukkan bagimu malam dan siang.
34.  Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
Tafsir:
032. (Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untuk kalian dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian) yang dimaksud adalah perahu (supaya bahtera itu berlayar di lautan) sehingga kalian dapat menaikinya dan memuat barang-barang di atasnya (dengan kehendak-Nya) dengan seizin-Nya (dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian sungai-sungai.)
53.  Yang Telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (Thaha:53)

33. (Dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian matahari dan bulan yang terus-menerus beredar) di dalam garis edarnya secara terus-menerus dan tidak pernah berhenti (dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian malam) supaya kalian tenang di dalamnya (dan siang) dan supaya kalian mencari kemurahan Allah di dalamnya.
34. (Dan Dia telah memberikan kepada kalian dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya) sesuai dengan keperluan kalian (Dan jika kalian menghitung nikmat Allah) pemberian nikmat-Nya kepada kalian (tidaklah dapat kalian menghitungnya) kalian tidak akan mampu menghitung-hitungnya. (Sesungguhnya manusia itu) yang dimaksud adalah orang kafir (sangat lalim dan sangat ingkar) artinya banyak berbuat aniaya terhadap dirinya dengan cara melakukan maksiat dan banyak ingkar terhadap nikmat Rabbnya.

Penjelasan
Menurut Sayyid Quthb:
Surat Ibrahim ayat 32:
الله الذى خلق السموات والأرض وأنزل من السماء Yaitu:
Maksudnya adalh bahwasanya Allah menciptaka langit dan bumi untuk manusia. Langit diturunka darinya air (huja) dan bumi menerima air hujan itu.
ماء فأخرج به, من السمرات رزقا لكم Yaitu:
Bahwa berbagai buah-buaha yang keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanam-tanama adalah sumber rizki yang pertama dan sumber keikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya mengikuti sunah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini.
وسخر لكم الفلك لتزري فى البحر بأمر yaitu:
Bahwa Allah menundukkannya dengan apa yang telah Dia titipkan pada beragai unsure kekhususan-kekhususan yang dapat menjalankan bahtera pada pernukaan air. Juga dengan apa yang telah Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil ditemuka oleh hokum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak Allah.


وسخر لكم الأنهر ­­­­yaitu:
Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan degan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan, dengan membawa apa yang terkandung didalamnya berupa ikan, rumput-rumputan dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan lainnya.

Surat Ibrahim ayat 33:
Penjelasan:
Menurut Sayyid Quthb:
وسخر لكم الشمس والقمر دا ئبين yaitu:
Maksudnya manusia tidak memanfaatkan matahari dan bulan secara langsung sebagaimana memanfaatkan air, buah-buahan, laut, bahtera dan sungai. Akan tetapi, manusia mendapatkan manfaatdari unsure-unsur (pengaruh-pengaruh dan jejak-jejak sinar) keduanya dan mengambil berbagai materi dan potensi kehidupan dan penghidupannya bahkan dalam struktur dan reformasi sel-sel tubuhnya.
وسخر لكم الأنهر yaitu:
Demikianlah pula Allah menunjukkan siang dan malam sesuai dengan kebutuhan dan struktur manusia serta apa yang relevan dengan kegiatan dan waktu santainya. Seandainya yang ada itu siang selamanya/malam selamanya, niscaya rusaklah organ-organ manusia. Disamping itu terjadi kerusakan pada segala yang ada disekitarnya serta terhalang kehidupan, kegiatan dan produksinya.

Surat Ibrahim Ayat 34:
Penjelasan:
Menurut Sayyid Quthub:
وءا تكم من كل ما سألتموه , وان تعدوا نعمت الله لا تحصوها yaitu:
Inilah I’jaz yang didalamnya serasi dan harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam semesta dan pertunjuka kenikmatan-kenikmatan. Bahwasanya Allah telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan, perhiasan dan keseangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari penghitungan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia). Mereka semua terbatasi diantara dua batas waktu, permulaan dan penghabisan. Juga diantara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat. Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia tidak bisa melingkupinya.

Surat Ibrahim Ayat 34:
Menurut Sayyid Quthb:
ان الانسان لظلوم كفار yaitu:
Setelah itu semua, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu. Bahkan semua itu pula, kamu tidak mensyukuri nikmat Allah, tetapi justru menukarnya dengan kekafiran dan melakukan kezaliman dalam takdir maupun dalam ibadah.

Menurut M. Quraisy Shihab:
وءا تكم من كل ما سألتموه yaitu:
Segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allah SWT atau Allah telah menyiapkan dan memberiakn kepada setiap orang apa yang dimintanya, baik melalui usahanya yang disukseskan Allah maupun melalui perintah-Nya kepada yang memiliki kelebihan untuk memberikan sebagian dari yang dimilikinya kepada yang butuh.
 تحصوها yaitu:
Terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf Ha’, Syad, ya’. Dan mengandung tiga makna, yaitu, menghalangi atau melarang, menghitung dan mampu. Dari sini lahir makna mengetahui dan mencatat serta memelihara dan sesuatu yang merupakan bagian dari tanah. Dari sini lahir kata “Hasya” yang bermakna batu.
لظلوم yaitu:
Berarti mendzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya, atau menyia-nyiakan  sesuatu dan tidak menggunakan pada tempat yang semestinya.
            Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa maksud kata tersebut adalah pengetahuan menyangkut sesuatu dari himpunan dan bilangannya, sehingga yang dapat menjangkau segala sesuatu hanyalah Tuhan. Ayat ini ditutup dengan mengemukakan dua sifat buruk manusia yaitu sangat dzalim dan kafir. Sehingga kontek ayat 34 mengandung uraian tentang sikap manusia yang durhaka terhadap aneka anugerah Allah.
            Dari semua penjelasan diatas dapat dipahami bahwa dalam surat Ibrahim ayat 32-34 ini, Tuhan menerangkan dalil yang terdapt dalam cakrawala yang menunjuk kepada kita agar wajib mensyukuri nikmat Allah dan mentaati-Nya.


c.       Al-A’raf 54-58
ان ربكم الله الذى خلق السموات والأرض فى ستة أيام ثم استوى على العرش يغشى اليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره , ألا له الخلق والأمر , تبارك الله رب العلمين (٥٤) ادعوا ربكم تضرعا وخفية , انه لا يحب المعتدين (٥٥)  ولا تفسدوا فى الأرض بعد اصلحها وادعوه خوفا وطمعا , ان رحمت الله قريب من المحسنين (٥٦) وهو الذى يرسل الرياح بشرا بين يدى رحمته , حتى اذا أقلت سحابا ثقالا سقنه لبلد ميت فأنزلنا به الماء فاخرجنا به من كل الثمرات , كذا لك نخرج الموتى لعلكم تذكرون (٥٧) والبلد الطيب يخرج الا نكدا , كذالك نصرف الأيت لقوم يشكرون (٥٨)
54.  Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
55.  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas
56.  Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
57.  Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu Telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. seperti Itulah kami membangkitkan orang-orang yang Telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
58.  Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Tafsir Al-A’raf ayat 54-58 :
ان ربكم الله الذى خلق السموات والأرض فى ستة أيام ثم استوى على العرش يغشى اليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره , ألا له الخلق والأمر , تبارك الله رب العلمين(٥٤)
054. (Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa) menurut ukuran hari dunia atau yang sepadan dengannya, sebab pada zaman itu masih belum ada matahari. Akan tetapi jika Allah menghendakinya niscaya Ia dapat menciptakannya dalam sekejap mata, adapun penyebutan hal ini dimaksud guna mengajari makhluk-Nya agar tekun dan sabar dalam mengerjakan sesuatu (lalu Dia bersemayam di atas Arsy) Arsy menurut istilah bahasa artinya singgasana raja, yang dimaksud dengan bersemayam ialah yang sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya (Dia menutupkan malam kepada siang) bisa dibaca takhfif yakni yughsyii dan dibaca tasydid, yakni yughasysyii, artinya: keduanya itu saling menutupi yang lain silih-berganti (yang mengikutinya) masing-masing di antara keduanya itu mengikuti yang lainnya (dengan cepat) secara cepat (dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang-bintang) dengan dibaca nashab diathafkan kepada as-samaawaat, dan dibaca rafa` sebagai mubtada sedangkan khabarnya ialah (masing-masing tunduk) patuh (kepada perintah-Nya) kepada kekuasaan-Nya (ingatlah, menciptakan itu hanya hak Allah) semuanya (dan memerintah) kesemuanya adalah hak-Nya pula (Maha Suci) Maha Besar (Allah, Tuhan) Pemelihara (semesta alam).
            Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa). Dialah Pemilik, Penguasa dan Pengaturnya, Dialah Tuhan yang berhak disembah dan kepada-Nyalah manusia harus meminta pertolongan.
Walaupun yang disebutkan dalam ayat ini hanya langit dan bumi saja, tetapi yang dimaksud ialah semua yang ada di alam ini karena yang dimaksud dengan langit ialah semua alam yang di atas, dan yang dimaksud dengan bumi ialah semua alam yang di bawah, dan termasuk pula alam yang ada di antara langit dan bumi sebagaimana tersebut.

ادعوا ربكم تضرعا وخفية , انه لا يحب المعتدين (٥٥)
55. (Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri) menjadi hal, yakni merendahkan diri (dan dengan suara yang lembut) secara berbisik-bisik (Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas) di dalam berdoa. Seperti banyak berbicara dengan suara yang keras.
            Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada Allah secara lemah lembut. Di dalam kitab Shahahain disebutkan bahwa dari Abu Musa Al-Asy’ary meriwayatkan bahwa ayat ini muncul saat Nabi mendengar do’a yang keras-keras. Lalu Nabi Bersabda:
“ Hai Manusia, tenangkanlah diri kalian, karena kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang gaib, sesungguhnnya Tuhan yang kaian seru Maha Mendengar dan Lagi Maha Dekat.”
            Ayat ini mengandung adab-adab dalam berdoa kepada Allah. Berdoa adalah suatu munajat antara seorang hamba dengan Tuhannya untuk menyampaikan suatu permintaan agar Allah dapat mengabulkannya. Maka berdoa kepada Allah hendaklah dengan sepenuh kerendahan hati, dengan betul-betul khusyuk dan berserah diri. Kemudian berdoa itu disampaikan dengan suara lunak dan lembut yang keluar dari hati sanubari yang bersih. Berdoa dengan suara yang keras menghilangkan kekhusyukan dan mungkin menjurus kepada ria dan pengaruh-pengaruh lainnya dan dapat mengakibatkan doa itu tidak dikabulkan Allah. Tidak perlulah doa itu dengan suara yang keras, sebab Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. 

ولا تفسدوا فى الأرض بعد اصلحها وادعوه خوفا وطمعا , ان رحمت الله قريب من المحسنين (٥٦)
56. (Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi) dengan melakukan kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan maksiat (sesudah Allah memperbaikinya) dengan cara mengutus rasul-rasul (dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut) terhadap siksaan-Nya (dan dengan penuh harap) terhadap rahmat-Nya. (Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik) yakni orang-orang yang taat. Lafal qariib berbentuk mudzakkar padahal menjadi khabar lafal rahmah yang muannats, hal ini karena lafal rahmah dimudhafkan kepada lafal Allah.
            Dalam ayat ini Allah swt. melarang jangan membuat kerusakan di permukaan bumi. Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, merusak pergaulan, merusak jasmani dan rohani orang lain, merusak penghidupan dan sumber-sumber penghidupan, (seperti bertani, berdagang, membuka perusahaan dan lain-lainnya). Padahal bumi tempat hidup ini sudah dijadikan Allah cukup baik. Mempunyai gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan dan lain-lain yang semuanya itu dijadikan Allah untuk manusia agar dapat diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai dirusak dan dibinasakan. Selain dari itu untuk manusia-manusia yang mendiami bumi Allah ini, sengaja Allah menurunkan agama dan diutusnya para nabi dan rasul-rasul supaya mereka mendapat petunjuk dan pedoman dalam hidupnya, agar tercipta hidup yang aman dan damai. Dan terakhir diutus-Nya Nabi Muhammad saw. sebagai rasul yang membawa ajaran Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Bila manusia-manusia sudah baik, maka seluruhnya akan menjadi baik, agama akan baik, negara akan baik, dan bangsa akan baik. Sesudah Allah melarang membuat kerusakan, maka di akhir ayat ini diulang lagi tentang adab berdoa.            Dalam berdoa kepada Allah baik untuk duniawi maupun ukhrawi selain dengan sepenuh hati, khusyuk diri dan dengan suara yang lembut, hendaklah juga disertai dengan perasaan takut dan penuh harapan. Takut kalau-kalau doanya tidak diterima-Nya dan mendapat ampunan dan pahala-Nya. Berdoa kepada Allah dengan cara yang tersebut dalam ayat ini akan mempertebal keyakinan dan akan menjauhkan diri dari keputus-asaan. Sebab langsung meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya, lambat laun apa yang diminta itu tentu akan dikabulkan-Nya. Rahmat Allah dekat sekali kepada orang-orang yang berbuat baik. Berdoa termasuk berbuat baik, maka rahmat Allah tentu dekat kepadanya.   Setiap orang yang suka berbuat baik, berarti orang itu sudah dekat kepada rahmat Allah. Anjuran berbuat baik banyak sekali ditemui dalam Alquran. Berbuat baik kepada tetangga dan kepada sesama manusia pada umumnya. Berbuat baik juga dituntut kepada selain manusia, seperti kepada binatang dan lain-lainnya. Sehingga kalau akan menyembelih binatang dianjurkan sebaik-baiknya, yaitu dengan pisau yang tajam tidak menyebabkan penderitaan bagi binatang itu.

وهو الذى يرسل الرياح بشرا بين يدى رحمته , حتى اذا أقلت سحابا ثقالا سقنه لبلد ميت فأنزلنا به الماء فاخرجنا به من كل الثمرات , كذا لك نخرج الموتى لعلكم تذكرون (٥٧)
57. (Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya) yakni terpencar-pencar sebelum datangnya hujan. Menurut suatu qiraat dibaca dengan takhfif, yaitu syin disukunkan; dan menurut qiraat lainnya dengan disukunkan syinnya kemudian memakai nun yang difatahkan sebagai mashdar. Menurut qiraat lainnya lagi dengan disukunkan syinnya kemudian didamahkan huruf sebelumnya sebagai pengganti dari nun, yakni mubsyiran. Bentuk tunggal (dari yang pertama ialah nusyuurun seperti lafal rasuulun, sedangkan bentuk tunggal yang kedua ialah basyiirun (sehingga apabila angin itu membawa) maksudnya meniupkan (mendung yang tebal) yaitu hujan (Kami halau mendung itu) mega yang mengandung air hujan itu. Di dalam lafal ini terkandung makna iltifat `anil ghaibiyyah (ke suatu daerah yang tandus) daerah yang tidak ada tetumbuhannya guna menyuburkannya (lalu Kami turunkan di daerah itu) di kawasan tersebut (hujan, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah) cara pengeluaran itulah (Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati) dari kuburan mereka dengan menghidupkan mereka kembali (mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran) kemudian kamu mau beriman.
Dalam pembahasan di atas disebutkan bahwa Allahlah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dialah Yang Mengatur, Yang Memutuskan, Yang Memerintah, dan Yang Menundukkannya. Dia memberikan petunjuk kepada mereka agar berdoa kepadaNya
karena Dia Mahakuasa atas semua yang dikehendakiNya.
Kemudian dalam pembahasan ayat ini disebutkan bahwa Allah mengingatkan kepada hamba-hambaNya bahwa Dialah yang memberi mereka rezeki, dan bahwa kelak Dia akan
membangkitkan orang-orang yang telah mati di hari kiamat.

والبلد الطيب يخرج الا نكدا , كذالك نصرف الأيت لقوم يشكرون (٥٨)
58. (Dan tanah yang baik) yang subur tanahnya (tanaman-tanamannya tumbuh subur) tumbuh dengan baik (dengan seizin Tuhannya) hal ini merupakan perumpamaan bagi orang mukmin yang mau mendengar petuah/nasihat kemudian ia mengambil manfaat dari nasihat itu (dan tanah yang tidak subur) jelek tanahnya (tidaklah mengeluarkan) tanamannya (kecuali tumbuh merana) sulit dan susah tumbuhnya. Hal ini merupakan perumpamaan bagi orang yang kafir. (Demikianlah) seperti apa yang telah Kami jelaskan (Kami menjelaskan) menerangkan (ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang bersyukur) terhadap Allah, kemudian mereka mau beriman kepada-Nya.
Dalam ayat ini menurut Mujahid dan lain-lainnya, tanah yang tidak subur ialah seperti tanah yang belum digarap dan belum siap untuk ditanami, serta tanah lainnya yang tidak dapat ditanami.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan keadaan orang mukmin dan orang kafir.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Usamah, dari Yazid ibnu Abdullah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang diutuskan oleh Allah kepadaku (untuk menyampaikannya) adalah seperti hujan deras yang menyirami bumi. Sebagian dari bumi ada yang subur dan menerima air, maka ia menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dati sebagian dari yang lain ada yang tandus, tetapi dapat menampung air, maka Allah memberikan manfaat kepada manusia melaluinya sehingga mereka dapat minum, dapat pengairan dan bercocok tanam. Dan hujan itu menimpa sebagian yang lain yang hanya merupakan rawa-rawa, tidak dapat menahan air dan tidak (pula) menumbuhkan rerumputan. Maka demikianlah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah dan beroleh manfaat dari apa yang diutuskan oleh Allah kepadaku untuk menyampaikannya, sehingga ia berilmu dan mengamalkannya. Juga sebagai perumpamaan buat orang yang tidak mau memperhatikannya serta tidak mau menerima petunjukAllah yang disampaikan olehku.
            Dari kedua ayat 57 dan 58 ini Allah menegaskan bahwa salah satu karunia besar yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya ialah menggerakkan angin sebagai tanda bagi kedatangan nikmat-Nya yaitu angin yang membawa awan tebal yang dihalaunya ke negeri yang kering yang telah rusak tanamannya karena ketiadaan air, kering sumurnya karena tak ada hujan dan penduduknya menderita karena haus dan lapar. Lalu Dia menurunkan di negeri itu hujan yang lebat sehingga negeri yang hampir mati itu menjadi subur kembali dan sumur-sumurnya penuh berisi air dengan demikian hiduplah penduduknya dengan serba kecukupan dari hasil tanaman-tanaman itu yang berlimpah-ruah.
            Memang tidak semua negeri yang mendapat limpahan rahmat itu, tetapi ada pula beberapa tempat di muka bumi yang tidak dicurahi hujan yang banyak, bahkan ada pula beberapa daerah dicurahi hujan tetapi tanah di daerah itu hilang sia-sia tidak ada manfaatnya sedikit pun.


d.    Ar-Rum:41
ظهر الفساد في البر و البر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون (٤١)
41.  Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
41. (Telah tampak kerusakan di darat) disebabkan terhentinya hujan dan menipisnya tumbuh-tumbuhan (dan di laut) maksudnya di negeri-negeri yang banyak sungainya menjadi kering (disebabkan perbuatan tangan manusia) berupa perbuatan-perbuatan maksiat (supaya Allah merasakan kepada mereka) dapat dibaca liyudziiqahum dan linudziiqahum; kalau dibaca linudziiqahum artinya supaya Kami merasakan kepada mereka (sebagian dari akibat perbuatan mereka) sebagai hukumannya (agar mereka kembali) supaya mereka bertobat dari perbuatan-perbuatan maksiat.
Dalam ayat ini dinyatakan bahwa kerusakan itu timbul di darat dan di laut. Sebagian ulama tafsir berpendapat bahwa "laut" di sini berarti kota-kota besar atau desa-desa yang di pinggir laut. Sedangkan darat artinya kampung-kampung atau desa-desa yang terdapat di darat atau padang pasir. Pernyataan Allah itu merupakan suatu petunjuk bahwa kerusakan itu adalah insidentil sifatnya. Sebelum ada manusia tak ada kerusakan. Tetapi berbarengan dengan adanya manusia maka kerusakan itupun terjadi pula.
Hal itu bukan berarti bahwa manusia itu faktor perusak di atas bumi ini. Sebab kalau demikian halnya, tentu manusia itu tak berhak menjadi wakil Tuhan di bumi. Tetapi kalimat itu memberikan petunjuk bahwa dasar kejadian semua makhluk yang ada di bumi, termasuk bumi adalah baik. Dalam hal ini keadaannya tak ubahnya seperti keadaan manusia pada permulaan kejadiannya, yaitu menurut fitrah yang baik. Karena kebanyakan fitrah manusia itu rusak, maka rusak pulalah fitrah alam ini. Mereka mengambil alat-alat yang baik dan bermanfaat pada alam ini sebagai alat penghancuran, pengrusakan dan lain-lain sebagainya.
Sungguhpun demikian, tak dapat dipungkiri lagi bahwa manusia itu besar sekali jasanya di atas bumi, seperti membikin bangunan-bangunan pencakar langit, menciptakan komputer, pergi ke bulan dan lain-lain.
Kerusakan yang terjadi di permukaan bumi ini mungkin juga timbul karena kesyirikan, keingkaran dan kesesatan  manusia. Mereka tak mau menuruti perintah Allah yang disampaikan oleh para Rasul-Nya. Hal ini dapat dilihat pada peristiwa perkelahian antara Habil dan Qabil, peristiwa kaum Samud, tenggelamnya kaum Nuh dan lain-lain.
Kemudian ayat 41 ini diteruskan dengan pertanyaan bahwa kerusakan itu terjadi karena ulah tangan manusia itu sendiri. Manusia mengerjakan hal itu dengan kehendaknya yang bebas tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Karena perbuatan yang timbul dari kehendak yang bebas itu, mereka akan diminta pertanggungjawabannya kelak di kemudian hari.
Seterusnya ayat ini menyatakan bahwa dengan adanya kerusakan itu manusia akan dapat merasakan sebagian dari perbuatan  jelek mereka itu. Maksudnya apa yang diperbuat manusia itu akan dihisab, yang baik di balas dengan baik dan yang jelek dibalas dengan jelek pula. Adapun makhluk lain yang hidup bersama manusia di atas bumi ini, apa yang diperbuatnya bukanlah menurut kehendaknya. Keadaannya tak ubahnya seperti keadaan biji kacang yang ditanam di dalam tanah yang subur, tentu dia akan tumbuh, berbunga dan berbuah menurut sifatnya.Karena iradahnya itu manusia bertanggung jawab atas semua perbuatannya itu, agar dia merasakan hasil perbuatannya itu, baik atau jelek.

Ayat 41 ini mengingatkan akan adanya perbuatan jelek, yang sifatnya merusak di permukaan bumi. Dan seterusnya manusia yang berakal hendaknya menjauhi perbuatan jelek itu, dan berbuat sesuatu serta berguna bagi masyarakat. Kalimat yang menyatakan bahwa dalam ayat ini agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan jelek mereka itu merupakan rahmat dari Allah SWT.
 Manusia yang berbuat jelek itu hanya sebagian saja dengan harapan hal itu akan menjadi penghambat bagi mereka untuk tidak berbuat jelek lagi, dan agar mereka kembali kepada Allah SWT. di waktu yang dekat serta berjalan di atas jalan yang benar. Andaikata Allah menyiksa semua manusia yang melakukan perbuatan jelek tentu mereka akan hancur semuanya, bahkan semua binatang yang melatapun di bumi ini turut hancur.



BAB  II
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Allah menciptakan langit dan bumi diperuntukkan bagi manusia maupun makhluk Allah yang lain. Semua yang ada dilangit dan di bumi adalah sebagai tanda bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas.
            Allah mengelurkan isi dari langit dan bumi untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan manusia. Allah memberikan karunia nikmat yang tak terbatas, agar manusia bersyukur. Dan balasan yang setimpal bagi orang-orang yang mengkufuri nikmat Allah.
            Manusia dituntut untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, sebagai tanda sifat penghambaan manusia kepada Tuhan.
            Bumi diciptakan Allah untuk manusia, dimana Allah menciptakan bumi  agar manusia menjadi kholifah, berperan aktif dan utama dalam peristiwa-peristiwa serta pengembangannya. Dia adalh pengelola dan pemilik alat, bukan dikelola oleh bumi dan menjadi hamba yang diatur dan dikuasai alat. Tidak juga tunduk pada perubahan dan perkembangan yang dilahirkan oleh alat-alat, sebagaimana diduga bahkan dinyatakan oleh paham materialism.
            Demikianlah segmen surat ini, semuanya difokuskan pada masalah keimanan, dan seruan agar umat manusia beriman dan bertaqwa.





















DAFTAR PUSTAKA
1.      Baiquni M.Sc.,Ph.D.Prof.Ahmad.Al-Qur’an Ilmu pengetahuan dan Teknologi (Jakarta: Dana Bakti Prima Persada, 1985)
2.      Ibnu Katsir Ad-Dimasyi, Al-Imam Abul Fida Ismail. Tafsir Ibnu Katsir Juz I Al-Fatihah-Al-Baqoroh, (Bandung: sinar Baru Algensindo,2002)
3.      Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur’an: dibawah Naungan Al-Qur’an, jilid 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)
4.      Matsna, Mohammad. 2004. Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah. Semarang: PT Karya Toha Putra
5.      Quthb, Sayyid. 2003. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press
6.      Shihab, Quraish. 2005. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati
7.      Syamsuri. 2004. Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga
8.      Syamsuri. 2006. Pendidikan Agama Islam KTSP untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga
9.      Al-Qur’an Digital, Sony Sugema, Januari 2003, V 1.1.3
10.  Al-Qur’an Digital, Agustus 2004. V 2.1
11.  Al-Qur’an Digital, Tafsir Jalalain, Jalaludin As-Suyuthi dan Jalaludin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahally, Tasikmalaya 2008.



0 komentar: