Comments


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
            Ibadah adalah tindakan untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan tuhan (Allah) dengan kata lain ibadah ialah suatu orientasi dari kehidupan dan orientasi tersebut hanya tertuju kepada tuhan (Allah) saja.
            Manusia diciptakan oleh tuhan dan hanya berorientasikan kepada penciptanya yaitu (Allah), sang pencipta yang menumbuhkan dan mengembangkan manusia, Dia yang memelihara, menjaga dan mendidik manusia, Dia pula yang memberi petunjuk kepada manusia, oleh karena itu hanya kepada Dia manusia menyembah.
            Terkait dengan masalah ibadah, terdapat beberapa golongan
hamba Allah yang sama-sama mengaku sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Mereka memiliki berbagai pengertian yang berbeda dalam memahami apa hakikat dari ibadah.
            Diantaranya ada golongan yang berpendapat bahwa ibadah itu adalah sikap taat dan ketertundukan seorang hamba kepada sang Kholiqnya dalam rangka Ta'abbud kepada-Nya. Akan tetapi mereka kurang memperhatikan hal-hal kecil diluar itu yang terkait dengan ibadah sosial, pergaulan ataupun sikap toleransi dalam sitiap situasi.
            Ada pula yang berpendapat bahwa dalam ibadah yang menjadi titik tekan adalah bagaimana seorang hamba bersungguh-sungguh tatkala mengerjakan sesuatu, dan sesuatu tersebut bernilai ibadah apabila ia tulus. Akan tetapi mereka acapkali menyepelekan ibadah mahdhoh, seperti sholat, puasa dan lain-lain.
            Kemudian golongan yang terakhir adalah golongan yang dapat menserasikan antara golongan yang pertama dan kedua, mereka dapat mensinergikan antara ibadah mahdhoh dan ibadah ghoiru mahdhoh.
            Akhir-akhir ini marak para kaum yang mengkaji masalah tersebut dan memunculkan kesimpulan yang aneh kedalam telingga kita, kemudian bagaimana sikap kita sebagai seorang terpelajar menyikapinya?
  1.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah. Sebagai berikut :
1.      Bagaimana Penafsiran dari Surat Luqman Ayat 13 – 17 dan 22 – 23,  Surat Al-Zariyat ayat 56 dan Al-Bayyinah ayat 5 menurut beberapa tafsir.
  1.  Tujuan
  1. Untuk mempelajari tentang penafsiran dari para mufassir terhadap Surat Luqman Ayat 13 – 17 dan 22 – 23,   Adz-Dzariyat ayat 56 dan Al-Bayyinah ayat 5.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Surat Luqman Ayat 13 – 17

Artinya:
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [1]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu
                1. Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

1.                Tafsir
a.      Surat Luqman ayat 13
Asbabun Nuzul Surat Al-Luqman ayat 13
            Ketika ayat ke-82 dari surat Al-An’am diturunkan,para sahabat merasa keberatan. Maka mereka datang menghadap Rasulullah SAW,seraya berkata “ Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang dapat membersihkan keimanannya dari perbuatan zalim ?”.Jawab beliau “ Bukan begitu,bukanlah kamu telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar. ( 2 )
( HR.Bukhori dari Abdillah )

Makna Ayat
            Surat Al Luqman adalah termasuk surat Makkiyah, terdiri dari 34 ayat, surat ini diturunkan setelah surat Ash – Shaffat.
            Luqman adalah seorang yang Sholeh dan memiliki akhlaq yang mulia, yaitu akhlaq yang berbasiskan kepada keimanan yang kokoh. Namanya diabadikan oleh Allah dalam salah satu surat di dalam Al Qur an, yakni surat ke 31.
            Sehingga di dalam surat ini Allah memberikan pelajaran kepada kita akan kesholehan Luqman dalam memberikan nasehat kepada anaknya, yakni nasehat yang mengandung unsur “keilmuan” yang mendalam, “keihklasan” yang suci dan “kecintaan”yang tinggi.



 

2.                Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi 21, hal. 153


Sekilas tentang lukman.
Luqman adalah sosok ayah pilihan Allah. Nasehat yang disampaikan pada anaknya diabadikan dalam Al Qur'an. Ketika kita membaca Q.S Luqman ayat 13 disitu dimulai dengan hentakan kata " Ingatlah takala ". Kata ini menandakan pentingnya atas nasehat yang akan disampaikan. 
Ayat 13 ini berbicara tentang nasihat Luqman kepada putranya yang dimulai dari peringatan terhadap perbuatan syirik. Luqman menjelaskan kepada anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezaliman yang besar. Syirik dinamakan perbuatan yang zalim, karena meletakan sesuatu bukan pada tempatnya.
Imam ash Shobuni menafsirkan لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ dengan menyatakan, “jadilah orang yang berakal; jangan mempersekutukan Allah dengan apapun, apakah itu manusia, patung, atau anak.” Beliau menafsirkan إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ dengan menyatakan, “Perbuatan syirik merupakan sesuatu yang buruk dan tindak kezaliman yang nyata. Karena itu, siapa saja yang menyerupakan antara Khalik dengan makhluk, tanpa ragu-ragu, orang tersebut bisa dipastikan masuk ke dalam golongan manusia yang paling bodoh. Sebab, perbuatan syirik menjauhkan seseorang dari akal sehat dari hikmah sehingga pantas digolongkan ke dalam sifat zalim, bahkan pantas disertakan dengan binatang.
Kata يَعِظُهُ terambil dari kata عظو yaitu nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikan sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesra kepada anak.
Sedangkan ulama memahami kata عظو dalam arti ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman, berpendapat bahwa kata tersebut mengisyaratkan bahwa anak Luqman itu adalah seorang musyrik, sehingga sang ayah menyandang hikmah it uterus menerus menasihatinya sampai akhirnya sang anak mengakui Tauhid.[3]
Kata بُنَيَّ adalah patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya dalah ابني ibny,dari kata بنا ibn yakni anak lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat diatas sumber isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik.
Pada ayat 13 diperintahkan untuk merenungkan anugrah Allah kepada Luqman itu dan serta mengingatkan kepada orang lain. Ayat ini berbunyi : 


 

  1. Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002




Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dalam keadaan pada saat ke saat menasihatinya bahwa wahai anakku sayang! Janganlah engkau mempersekutukan Allah dengan apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang jelas maupun tersembunyi adalah syirik yakni mempersekutukan Allah.[4]
Luqman menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Memang “ At-takhiyah muqaddamun ‘ala at-tabliyah” (menyingkirkan keburukan lebih utama dari pada menyandang perhiasan).[5] Dari ayat ini pula dapat dipahami bahwa antara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah member nasihat dan didikan. Orang tua harus memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Orang tua tidak boleh menganggap cukup apabila telah menyediakan segala kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan kesenangan lahiriyah lainnya. Justru yang lebih penting adalah memperhatikan kebutuhan rohani berupa pendidikan agama maupun pendidikan keilmuan lainya dan keterampilan.

b.      Surat Luqman ayat 14
Makna Ayat
            Allah mewajibkan kepada semua manusia agar patuh dan taat kepada orang tua. Karena seorang ibu itu mengandung dengan segala kepayahan dan kesulitan. Seorang ibupun menyusui sampai berusia dua tahun. Allah mengharuskan pula agar bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat yang diberikan dengan cara melakukan semua bentuk taat. Dan hendaknya berterima kasih pula kepada orang tua dengan cara melakukan kebaikan dan taat. Karena semua akan kembali kepada Allah, dan Allah akan membalas semua perbuatan yang dilakukan manusia.
Kata وَهْنًا berarti kelemahan atau kerapuhan. Yang dimaksud disni kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan, penyusuan dan pemeliharaan anak. Kata yang digunakan ayat inilah mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya. Firman-Nya وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ (dan penyapihannya didalam dua tahun), mengisyaratkan betapa pentingnya penyusuan anak oleh seorang ibu kandung. Tujuan penyusuan ini bukan sekedar untuk memelihara kelangsungan hidup anak, melainkan juga lebih-lebih untuk menumbuh kembangkan anak dalam kondisi fisik dan psikis yang prima.
Selanjutnya Allah menjelaskan pesan-Nya melalui firman berikut:
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
            Dan Kami perintahkan kepadanya, bersyukurlah kamu kepada-Ku atas semua nikmat yang telah Ku limpahkan kepadamu, dan bersyukur pulalah kepada ibu bapakmu. Karena sesungguhnya kedua itu merupakan penyebab bagi keberadaanmu. Dan keduanya telah merawatmu dengan baik sehingga kamu menjadi tegak dan kuat.
  1. Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
  2. Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Hanya kepada-kulah kembali kamu, bukan kepada selain-Ku. Maka Aku akan memberikan balasan terhadap apa yang telah kamu lakukan yang bertentangan dengan-Ku.
Ayat diatas menyatakan : dan kami wasiatkan yakni berpesan dengan amat kukuh kepada semua manusia menyangkut kepada orang ibu bapanya, pesan kami disebabkan karena ibunya telah mengandung dalam keadaan kelemahan diatas kelemahan, yakni kelemahan berganda-ganda dan dari saat ke saat bertambah-tambah. Lalu beliau melahirkan dengan susah payah, kemudian merawat dan menyusuinya setiap saat, bahkan ditengah malam ketika saat manusia lain tertidur nyenyak.     Demikian hingga tiba masa menyapikannya. Dimasa kelahiran memang ibu lebih berpotensi atau lebih ekstra dibandingkan seorang bapak dan itu tidak cukup hanya dimasa kelahiran seorang anak, melainkan sampai anak tumbuh berkembang. Memang ayah pun bertanggung jawab menyiapkan dan membantu agar beban yang dipikulnya tidak terlalu berat. Namun, jasa ayah tidak bisa diabaikan begitu saja oleh karena itu anak juga berkewajiban berdoa untuk ayahnya.[6]
c.       Surat Luqman ayat 15
Makna Ayat
            Jika orang tua mengajak kepada kufur atau dosa, maka jangan ikuti keinginanya dengan penolakan yang lembut dan bijaksana.Karena ketaatan itu haruslah dalam kebajikan. Dan jangan sampai penolakan itu dilakukan dengan perangai yang buruk. Ikutilah orang yang banyak bertaubat dan banyak melakukan kebaikan. Karena setelah kehidupan ini pastilah semuanya akan kembali kepada Allah Swt dan akan terungkap semua perbuatan yang telah dilakukan oleh setiap orang dan akan diberi ganjaran sesuai dengan perbuatannya.
            Ayat diatas menerangkan bahwa jika orang tua memaksa untuk mempersekutukan Allah, maka janganlah mematuhinya.setioap perintah untuk perbuatan maksiat, maka tidak boleh ditaati. Namun demikian, jangan memutuska hubungan silaturahmi dengan tetaplah menghormatinya  sebagai orang tua.  Berbaktilah kepada mereka selagi tidak menyimpang dari ajaran agama dan bergaullah dengan mereka menyangkut keduniawian, bukan aqidah. Dalam surat Al-Ankabut: 8, Artinya: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibui-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu uintuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
            Hokum ini berlaku untuk semua umat Nabi Muhammad, yaitu melarang ketaatan anak untuk mengikuti kehendak orang tuanya yang bertentangan dengan ajaran agama. Dan juga sebagaimana dalam sebuah riwayatbahwa Asma’ putrid Sayyidina Abu Bakr ra. Pernah didatangi oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah, Asma’ bertanya kepada Nabi bagaimana seharusnya ia bersikap, maka Rosul memerintahkannya untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjungi dan menyambut kunjungannya.


  1. Shihab, M. Quraish, TAFSIR AL-MISBAH: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. 2002
d.      Surat Luqman ayat 16
Makna Ayat
          Wahai ananda, meskipun perbuatan buruk atau perbuatan baik hanya seberat biji saja, pastilah tidak akan luput dari pandangan Allah Swt. Kebaikan dan keburukan itu pastilah akan terungkap jelas di hari kiamat kelak, dan bagi yang berbuat kebaikan pastilah diganjar dengan kebaikan pula, begitu pula dengan keburukan. Allah Swt itu Maha Lembut dan Dia selalu memberi jalan keluar bagi para hamba-Nya dengan cara yang baik. Allah Swt juga Maha Mengawasi dan tidak satupun yang luput di hadapanNya.
            Katika menafsirkan kata khardal, Quraish Shihab mengutip penjelasan Tafsir al-untakhab yang melukiskan biji tersebut. Disana dinyatakan bahwa satu kilogram biji khardal/moster terdiri atas 913.000 butir. Dengan demikian, berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau kurang lebih 1 mg, dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai sekarang. Oleh karena itu, biji ini sering digunakan oleh Al-Qur’an untuk manunjuk sesuatu yang sangat kecil dan halus.
            Kata lathif terambil dari akar kata lathafa yang huruf-hurufnya terdiri dari lam, tha’ dan fa. Kata ini mengandung makna lembut, halus atau kecil. Dari makna ini kemudian lahir makna ketersembunyian dan ketelitian.
            Sedangkan kata khabir, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf kha, ba’ dan ra’ yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Khabir dari segi bahasa dapat berarti yang mengetahui dan juga tumbuhan yang lunak. Sementara pakar berpendapat bahwa kata ini terambil dari kata khabartu al-ardha dalam arti membelah bumi. Dari sinilah lahir pengertian “mengetahui”, seakan-akan yang bersangkutan membahas Sesuatu sampai dia membelah bumi untuk menemukannya.(7)
            Materi pelajaran akidah diselingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
            Wasiat Luqman pada ayat 16 ini adalah berkaitan dengan masalah akhirat, dimana di dalamnya terdapat pahala yang adil dan perhitungan yang cermat atas amal perbuatan manusia yang digambarkan oleh al-Qur’an dengan kata-kata indah dan menyentuh, yang membangkitkan semangat, suatu gambaran yang menunjukkan atas ilmu Allah yang meliput, yang tidak sebiji sawi pun yang luput dari pengetahuan-Nya, walaupun biji itu tersembunyi di dalam perut bumi, di dalam batu
yang keras, atau di atas langit Allah yang luas, apalagi amal perbuatan manusia, mudah sekali diketahui-Nya. Karena pengetahuan Allah meliputi seluruh langit dan bumi.(8)


 

  1. Quraish Shihab, Loc. Cit., h. 134-136
  2. M. Ali Ash-Shabuny, Cahaya Al-Qur™an, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2002), Cet. 1, h. 391-392

            Tidak ada satu pun ungkapan lain yang dapat menggambarkan tentang ketelitian dan keluasan ilmu Allah yang meliputi segalanya, tentang kekuasaan Allah, dan tentang hisab yang teliti dan timbangan yang adil melebihi gambaran yang dilukiskan oleh ungkapan ayat 16 surat Luqman ini. Inilah salah satu keistimewaan al-Qur’an sebagai mukjizat, dimana susunannya sangat indah dan
sentuhannya sangat dalam.(9)


e.       Surat Luqman ayat 17
Makna Ayat
Dalam ayat ini Luqman menyuruh anaknya untuk menegakan shalat. Karena shalat merupakan tiang agama dan sebagai penolak keburukan dan kemungkaran. Kemudian menyuruh pula agar anaknya selalu menyeru dan mengajak kepada kebaikan, juga menolak semua bentuk kemungkaran. Karena mengajak pada kebaikan dan menolak keburukan itu adalah jalan yang ditempuh para Nabi dan selayaknya orang-orang pun melakukan hal demikian karena hal itu adalah bentuk perilaku sangat mulia dan terhormat. 
            Redaksi meneruskan kisah Luqman kepada anaknya. Ia menelusuri bersama anaknya langkah-  langkah akidah setelah kestabilannya dalam nurani. Setelah beriman kepada Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, yakin terhadap kehidupan akhirat yang tiada keraguan di dalamnya, dan percaya kepada keadilan balasan dari Allah yang tidak akan luput walaupun seberat satu biji sawi pun, maka langkah selanjutnya adalah menghadap Allah dengan mendirikan shalat dan mengarahkan kepada manusia untuk berdakwah kepada Allah, juga bersabar atas beban-beban dakwah dan konsekuensi yang pasti ditemui.
             Pada ayat ini ada suatu pesan bahwa salah satu tugas orang tua kepada anaknya ialah mendidiknya untuk menegakkan shalat. Karena shalat merupakan langkah kedua setelah keimanan sehingga Rasulullah SAW menyebutkan dalam hadisnya bahwa shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah ikrar keimanan dilakukan (syahadatain) dan Rasulullah memerintahkan agar orang tua menyuruh anaknya shalat semenjak usia dini, yakni usia tujuh tahun., sebagaimana sabdanya:

Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat bila mereka telah berusia tujuh tahun., dan pukullah mereka jika meninggalkannya bila mereka telah berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka. (H.R. Ahmad dan Abu Daud)51









  1. Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 176
  2. Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (terj), (Bandung : al-Ma’arif, 1990), Cet 10, j. 1, h. 205




            Dengan menegakkan shalat berarti kita melakukan perbaikan spiritual. Menurut Hamka dalam Tafsir al-Azharnya disebutkan bahwa : iaUntuk memperkuat pribadi dan meneguhkan hubungan dengan Allah, untuk memperdalam rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat dan perlindungan-Nya yang selalu kita terima, dirikanlah shalat. Dengan shalat kita melatih lidah, hati dan seluruh anggota badan untuk selalu ingat kepada Tuhanla.(11)
            Selain itu, jika kita bahas salah satu rahasia shalat, misalkan ketika melakukan sujud, anggota badan yang terletak di posisi paling tinggi yaitu kepala,kita rendahkan hingga kening kita menyentuh tanah, sedikitnya sebanyak 34 kali dalam 17 rakaat shalat wajib, karena itu shalat senantiasa mengajari manusia untuk tidak takabbur, sebaliknya mendidik kita untuk tawadhu di hadapan Allah SWT.(12)
            Nasihat Luqman pada ayat 17 ini menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin dalam amar makruf dan nahi mungkar, juga nasihat berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. Menyuruh mengerjakan makruf, mengandung pesan untuk mengerjakannya, karena tidaklah wajar menyuruh sebelum diri sendiri mengerjakannya. Demikian juga melarang kemungkaran, menuntut agar yang melarang terlebih dahulu mencegah dirinya,. Itu agaknya yang menjadi sebab mengapa Luqman tidak memerintahkan anaknya melaksanakan yang makruf dan menjauhi mungkar, tetapi memerintahkan, menyuruh dan mencegah. Di sisi lain membiasakan anak melaksanakan tuntunan ini menimbulkan dalam dirinya jiwa kepemimpinan serta kepedulian sosial(13)
            Menurut Mohsen Qaraati, Kita berkewajiban untuk membina anak-anak kita menjadi individu-individu yang bertanggungjawab dan memiliki kepekaan social melalui pendidikan keberimanan, kebertuhanan, menegakkan shalat dan melalui pendidikan amar makruf nahi mungkar. Karena amar makruf adalah bukti cinta seseorang kepada ajaran yang diyakininya, bukti kecintaan seseorang kepada umat, bukti dari keinginan yang kuat untuk menuju keselamatan secara massal. Amar makruf adalah semangat keagamaan dan jalinan persahabatan antar umat.(14)
            Inilah jalan akidah yang telah dirumuskan Allah. Yaitu, mengesakan Allah, merasakan pengawasan-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya, yakin kepada keadilan-Nya, dan takut terhadap pembalasan dari-Nya. Kemudian melalui ayat 17 ini beralih kepada dakwah untuk menyeru manusia agar memperbaiki keadaan mereka, serta menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari yang mungkar. Juga bersiap-siap sebelum itu untuk menghadapi peperangan
melawan kemungkaran, dengan bekal yang pokok dan utama yaitu bekal ibadah dan menghadap kepada-Nya serta bersabar atas segala yang menimpa da’i di jalan Allah.


 

  1. Hamka, Op. Cit., h. 132
  2. Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 92
  3. Quraish Shihab, Op. Cit., h. 137
  4. Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 79 & 86
            Lanjutan ayat 17 mengatakan:
“Sesungguhnya yang demikian termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” Karena dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an makna Azmil Umur adalah melewati rintangan dan meyakinkan diri untuk menempuh jalan setelah membulatkan tekad dan keinginan.(15)
            Dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan makna Azmil umur ialah yang telah diwajibkan oleh Allah SWT atas hamba-hamba-Nya, tanpa ada pilihan lain. Karena di dalam hal tersebut (shalat, amar makruf dan sabar) terkandung faedah yang besar dan manfaat yang banyak, di dunia dan di akhirat.(16)
B.  Surat Luqman Ayat 22-23

Atinya:
22. Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
23. Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

1. Tafsir
a.  Surat Luqman ayat 22
            Menurut ayat diatas mempunyai maksud bahwa seorang hamba dalam penghambaannya menyerahkan segala urusan kepada Allah. Dan dalam melakukan segala ibadah berdasarkan karena Allah semata.
            Seorang hamba yang melakukan kebaikan dikarenakan mencari ridho Allah, maka berarti hamba tersebut berpegang pada aturan-aturan yang berlaku dalam hokum Islam. Sedang yang


15.           Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 176
16.           Al-Maraghi, Op. Cit., h. 160


 dimaksud “buhul Tali” di sini dimaksudkan adalah agama Islam yang memang satu-satunya Agama yang diridhoi oleh Allah. Dan segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang hanyalah akan terjadi karena izin Allah Swt.

b.                               Surat Luqman ayat 23
            Ayat ini menjelaskan bahwa kekafiran seseorang tidaklah ada hubungan dalam bidang aqidah, namun tetap menjalin hubungan dalam hal keduniawian. Dalam hal ini dimaksudkan bahwa kita diperbolehkan saling tolong menolong dalam hal apapun kecuali tentang ibadah. Dikarenakan ibadah sudah menyangkut dalam hal aqidah yang mana bila seseorang mengikuti peribadatan atau sesuatu hal yang berkaitan dengan ibadah, itu sudah berarti kita mengikuti kekafiran orang tersebut.
            Segala keyakinan seseorang, baik orang mukmin maupun orang kafir, semua akan mempertanggungjawabkan keyakinan tersebut dan mendapatkan balasan atas segala hal yang dilakukan.

C.  Surat Adz-Dzariyat ayat 56
56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Asbabun Nuzul
            Kita membayangkan bahwa Allah SWT ketika menetapkan penciptaan Nabi Adam, Dia memberitahukan kepada malaikat-Nya dengan tujuan agar mereka bersujud kepadanya, bukan dengan tujuan mengambil pendapat mereka atau bermusyawarah dengan mereka. Maha Suci Allah SWT dari hal yang demikian itu. Allah SWT memberitahukan mereka bahwa Dia akan menjadikan seorang hamba di muka bumi, dan bahwa khalifah ini akan mempunyai keturunan dan cucu-cucu, di mana mereka akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah di dalamnya. Lalu para malaikat yang suci mengalami kebingungan. Bukankah mereka selalu bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya, namun mengapa khalifah yang terpilih itu bukan termasuk dari mereka? Apa rahasia hal tersebut, dan apa hikmah Allah dalam masalah ini? Kebingungan melaikat dan keinginan mereka untuk mendapatkan kemuliaan sebagai khalifah di muka bumi, dan keheranan mereka tentang penghormatan Adam dengannya, dan masih banyak segudang pertanyaan yang tersimpan dalam diri mereka. Namun Allah SWT segera menepis keraguan mereka dan kebingungan mereka, dan membawa mereka menjadi yakin dan berserah diri. Firman-Nya:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. al-Baqarah: 30)

            Ayat tersebut menunjukan keluasan ilmu Allah SWT dan keterbatasan ilmu para malaikat, yang karenanya mereka dapat berserah diri dan meyakini kebenaran kehendak Allah. Kita tidak memba­yangkan terjadinya dialog antara Allah SWT dan para malaikat sebagai bentuk pengultusan terhadap Allah dan penghormatan terhadap para malaikat-Nya. Dan kita meyakini bahwa dialog terjadi dalam diri malaikat sendiri berkenaan dengan keinginan mereka untuk mengemban khilafah di muka bumi, kemudian Allah SWT memberitahu mereka bahwa tabiat mereka bukan disiapkan untuk hal tersebut.
            Sesungguhnya tasbih pada Allah SWT dan menyucikan-Nya adalah hal yang sangat mulia di alam wujud, namun khilafah di muka bumi bukan hanya dilakukan dengan hal itu. Ia membutuhkan karakter yang lain, suatu karakter yang haus akan pengetahuan dan lumrah baginya kesalahan. Kebingungan atau keheranan ini, dia­log yang terjadi dalam jiwa para malaikat setelah diberitahu tentang penciptaan Nabi Adam, semua ini layak bagi para malaikat dan tidak mengurangi kedudukan mereka sedikit pun. Sebab, meskipun kedekatan mereka dengan Allah SWT dan penyembahan mereka terhadap-Nya serta penghormatan-Nya kepada mereka, semua itu tidak menghilangkan kedudukan mereka sebagai hamba Allah SWT di mana mereka tidak mengetahui ilmu Allah SWT dan hikmah-Nya yang tersembunyi, serta alam gaibnya yang samar. Mereka tidak mengetahui hikmah-Nya yang tinggi dan sebab-sebab perwujudannya pada sesuatu.
            Setelah beberapa saat para malaikat akan memahami bahwa Nabi Adam adalah ciptaan baru, di mana dia berbeda dengan mereka yang hanya bertasbih dan menyucikan Allah, dan dia pun berbeda dengan hewan-hewan bumi dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya yang hanya menumpahkan darah dan membuat kerusakkan. Sesungguhnya Nabi Adam akan menjadi ciptaan baru dan keberadaannya disertai dengan hikmah yang tinggi yang tidak ada seorang pun mengetahuinya kecuali Allah SWT.
Allah SWT berfirman:[17]
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
            Para malaikat mengetahui bahwa Allah SWT akan menciptakan khalifah di muka bumi. Allah SWT menyampaikan perintah-Nya kepada mereka secara terperinci. Dia memberitahukan bahwa Dia akan menciptakan manusia dari tanah. Maka ketika Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh di
17.           Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. CV. Pustaka Agung  Harapan. Surabaya : 2006.

 dalamnya, para malaikat harus bersujud kepadanya. Yang harus dipahami bahwa sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan sujud ibadah, karena sujud ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah SWT.[18]
            Ayat di atas menyatakan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia” untuk satu manfaat yang kembali kepada diri-Ku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesudahan aktivitas mereka adalah beribadah kepada-Ku.
            Ayat di atas menggunakan bentuk persona pertama (Aku) setelah sebelumnya menggunakan persona ketiga (Dia/Allah). Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang dikandung tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah melibatkan malaikat atau sebab-sebab lainnya. Penciptaan, pengutusan Rasul, turunnya siksa, rezeki yang dibagikan-Nya melibatkan malaikat dan sebab-sebab lainnya, sedang di sini karena penekanannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata tanpa member kesan adanya keterlibatan Allah swt.
            Didahulukannya penyebutan kata (الجنّ) al-jinn/jin dari kata (الأنس) al-ins/manusia karena memang jin lebih dahulu diciptakan Allah daripada manusia.
            Huruf (ل) lam pada (ليعبدون) liya’budun bukan berarti agar supaya mereka beribadah atau agar Allah disembah. Ibadah bukan hanya sekedar ketaatan dan ketundukan yang mencapai puncaknya akibatnya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya.
            Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadah tidak murni (ghairu mahdhah). Ibadah murni adalah iabadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukannya karena Allah semata, yakni sesuai dan sejalan dengan tuntunan petunjuk-Nya.[19]
            Dengan demikian ibadah yang dimaksud di sini lebih luas jangkauan maknanya daripada ibadah dalam bentuk ritual. Tugas kekhalifahan termasuk dalam makna ibadah dan dengan demikian hakikat dari ibadah mencakup dua hal pokok, yaitu:
18. M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Volume 15. Penerbit Lentera Hati. Jakarta :   2009
19. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah Volume 13. Penerbit Lentera Hati. Jakarta :   2009.

  1. Kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insane. Kemantapan perasaan bahwa ada hamba dan ada Tuhan, hamba yang patuh dan Tuhan yang disembah (dipatuhi), tidak selainnya. Tidak ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya.
  2. Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya hanya mengarah kepada Allah secara tulus, melepaskan diri dari segala perasaaan yang lain dan dari segala makna penghambaan diri kepada Allah. Dengan demikian, terlaksana makna ibadah. Dan menjadilah setiap amal bagaikan ibadah ritual dan setiap ibadah ritual serupa dengan memakmurkan bumi, memakmurkan bumi serupa dengan jihad di jalan Allah dan jihad seperti kesabaran menghadapi kesulitan dan ridha menerima ketetapan-Nya, semua itu adalah ibadah, semuanya adalah pelaksanaan tugas pertama dari penciptaan Allah terhadap jin dan manusia dan semua merupakan ketundukan ketetapan Ilahi yang berlaku umum yakni ketundukan segala sesuatu kepada Allah bukan kepada selain-Nya.[20]
D.  Surat Al – Bayyinah ayat 5
Artinya:”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus  dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
            Ayat ini menjelaskan tentang sikap Ahli Kitab dan kaum musyrikin itu adalah bahwa mereka enggan percaya serta berselisih satu sama lain padahal mereka tidak diperintahkan, yakni tidak dibebai tugas, baik yang terdapat dalam kitab-kitab yang lurus itu maupun melalui Rasul yang menyampaikannya, juga dalam kitab-kitab suci disampaikan oleh nabi-nabi yang mereka imani,kecuali supaya mereka menyembah, yakni beribadah kepada Allah yang Maha Esa denganmemurnikan secara bulat untuk-Nya semata-mata ketaatan sehingga tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan sedikit persekutuan pun dalam menjalankan agama lagi bersikap


 

20.   M. Quraish Shihab. Wawasan Al-Qur’an. Mizan Media Utama. Bandung :             2001.

 secara lurus secara mantap dengan selalu cenderung kepada kebajikan dan juga mereka diperintahkan supaya mereka melaksanakan shalat secara baik dan bersinambung dan menunaikan zakat secara sempurna sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, dan yang demikian itulah agama yang sangat lurus bukan seperti yang selama ini mereka lakukan.
            Kata (مخلصين) mukhlishin terambil dari kata (خلص) khalasha yang berarti murni setelah sebelumnya diliputi atau disentuh kekeruhan. Dari sini ikhlas adalah upaya memurnikan dan menyucikan hati sehingga benar-benar hanya terarah kepada Allah semata, sedang sebelumnya keberhasilan usaha ini, hati masih diliputi atau dihinggapi oleh sesuatu selain Allah, misalnya pamrih atau semacamnya.
            Kata khunafa’ adalah bentuk jamak dari kata khanif yang biasa diartikan  lurus  atau  cenderung  kepada sesuatu. Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya kepada telapak pasangannya. Yang kanan condong ke arah kiri dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu menjadikan si pejalan kaki tidak moncong ke kiri, tidak pula ke arah kanan. Dari sini, seseorang yang berjalan lurus atau bersikap lurus tidak condong ke arah kanan atau kiri dinamai hanif.Ajaran islam adalah ajaran yang berada dalam posisi tengah, tidak cenderung kepada materialisme yang mengabaikan hal-hal yang bersifat spiritual tetapi tidak juga kepada spiritualisme murni yang mengabaikan hal-hal yang bersirafat material.
            Penyifatan agama dengan al-qayyinah di samping berarti agama yang sangat lurus tidak bengkok seperti makna yang penulis kemukakan pada ayat 3 di atas, dapat juga berarti sebagaimana dikemukakan oleh al-Biqai sebagai agama orang-orang yang tampil menegaskan Allah dan melaksanakan ajaran Tauhid atau berarti agama yang diajarkan dalam al-Kutub al-Qayyimah.
pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang berupa ikhlas lahir dan batin dalam berbakti kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik serta mematuhi agama Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekafiran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadat kepada Allah SWT.
            Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya bahwa mengapa mereka berpecah belah setelah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam datang kepada mereka? bukankah dia adalah Rasul yang mereka tunggu-tunggu? Padahal (sebenarnya) mereka tidak diperintahkan baik di dalam kitab-kitab
mereka dan seruan para Rasul mereka, maupun di dalam al- Qur’an dan seruan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam, kecuali untuk beribadah kepada Allâh Ta’âla semata dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, dengan meninggalkan semua agama yang mereka ikuti dan memeluk agama Islam.
            Mereka juga diperintahkan untuk menunaikan shalat pada waktunya dengan memperhatikan tata cara, syarat dan rukunnya, serta diperintahkan pula mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka untuk para fakir dan miskin. Itulah agama yang lurus yang mengantarkan seorang hamba untuk mendapatkan ridha-Nya dan surga yang abadi dan selamat dari siksa dan amarah-Nya.
Konsep Pendidikan Ibadah
            Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan, pengabdian, sebenarnya adalah istilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga berhubungan dengan tingkah laku manusia meliputi kehidupan.
            Pendidikan ibadah mencakup segala tindakan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan Allah seperti shalat, maupun dengan sesame manusia. Hubungan kepada Allah SWT dalam bentuk shalat ini dinyatakan oleh ayat 17 surat Luqman. Pada ayat ini Allah mengabadikan empat bentuk nasihat Luqman untuk penetapan jiwa anaknya, yaitu :
a) Dirikanlah shalat;
b) Menyuruh berbuat yang baik (makruf);
 c) Mencegah berbuat mungkar, dan
d) bersabar atas segala musibah.
            Inilah empat modal hidup yang diberikan Luqman kepada anaknya dan diharapkan menjadi modal hidup bagi kita semua yang disampaikan Muhammad kepada umatnya. Ayat ini mendidik manusia dengan pemantapan jiwa dengan mendirikan shalat, diikuti sebagai pelopor untuk perbuatan makruf, berani menegur yang salah, mencegah yang mungkar, dan bila dalam melakukan itu semua terdapat rintangan, maka diperlukan sifat sabar dan tabah. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
yang diwajibkan oleh Allah SWT. Dengan demikian ayat ini memberi indikasi bahwa ahalat sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam hubungan masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan.






BAB  III
PENUTUP

A.                               Kesimpulan
            Ibadah adalah suatu perintah dari Allah yang harus kita laksanakan dengan jiwa dan hati yang tulus dan ikhlas. Ibadah kita, mengisyaratkan bahwa kita sebagi seorang hamba membutuhkan terhadap rahmat, hidayah, taufiq maupun pertolongan dari Allah SWT, akan tetapi perlu di ingat bahwa rasa kebutuhan kita terhadap Allah tidak akan mengurangi rasa tulus ikhlas kita dalam beramal.
            Tiap-tiap ibadah yang kita kerjakan hendaknya didorong oleh keyakinan kepada kebesaran dan kekuasaan Allah serta timbul atas rasa syukur dan hutang budi kita kepada-Nya, jika demikian maka ibadah akan menjauhkan diri kita dari perbuatan yang tidak baik dan yang dilarang oleh Allah SWT.
            Tetapi ibadah yang tidak didasari atas beberapa aspek diatas akan terkesan hanya karena sebatas memelihara tradisi yang sudah turun temurun, kendatipun memiliki rupa dan bentuk ibadah. Tak ada ubahnya dengan patung dan gambar yaitu hanya sebagai simbol. Selanjutnya ibadah yang semacam itu, tidak ada kesan dan buahnya kepada tabiat dan akhlak orang yang beribadah tersebut.
               
B.  Pelajaran Dalam Ayat 
·  Pentingnya menjaga Tauhid dan kejinya dosa Syirik
·  Menjelaskan arti hikmah, yaitu bersyukur kepada Allah Swt dengan cara taat dan selalu ingat  
    kepadaNya. Dan orang yang bersyukur itu pasti orang memiliki akal sehat
·  Pentingnya memberi nasehat yang baik, sekaligus memberi solusi (irsyad) kepada siapa saja
·  Buruknya dosa musyrik dan jeleknya orang yang memusyrikan Allah Swt
·  Keharusan taat kepada orang tua dan mempelakukan mereka dengan lembut dan sayang
·  Pengukuhan pedoman, “ Tidak boleh patuh kepada seseorang jika menyuruh berbuat dosa kepada  
    Allah Swt.” Dan ini berlaku kepada orang tua untuk tidak taat atas kemauan mereka ketika  
    diperintah melakukan keburukan.
·  Wajib mengikuti jalan yang benar sesuai Al-Qur’an dan Sunnah dan haramnya mengikuti jalan yang tidak berdasar kepada kedua pusaka itu
            Suatu hal yang menjadi asas dalam ajaran Islam, yaitu mengapa manusia hidup. Merupakan satu pertanyaan yang memerlukan satu jawaban yang tepan. Karena jika manusia yang hidup di muka bumi Tuhan ini tidak dapat memberi jawaban yang betul, manusia itu tak pandai hidup. Mereka sekedar pandai maju, pandai berkebudayaan tapi tak pandai hidup. Jika manusia gagal hidup di dunia, maka manusia akan gagal hidup di akhirat.
            Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua alam semesta ini.
Sedangkan surat Al Bayyinah ayat 5 memiliki beberapa kandungan, antara lain:
  1. Manusia diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah SWT.
  2. Memurnikan agama Allah dari ajaran-ajaran kemusyrikan.
  3. Manusia diperintahkan mendirikan shalat dan zakat.
  4. Menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.












DAFTAR PUSTAKA
1. Abu Zakariyya, Ayusarutl at-Tafasir, Syeikh Al-Jazairi
2. Abdurahman As-Sa’di, Taysirul Karim ar-Rahman
3. Mustapha al-Adawi, At-Tashil li Ta’wil At-Tanzil
4. Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf
5. Ibnu Jarir ath-Thabari, Tafsir Thabari Jami’ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi Al-Qur’an
6. Syeikh Muatawali Asy-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi
7. Prof. Dr. Wahbah Zuhayli, Tafsir al-Wasith
8. Dr. Hikmat Ibn Yasin, Tafsir as-Sahih
9. Dr. Muhammad Thayib Ibrahim, I’rabul Qur’an
10. A.Mudjab Mahali,2002,Asbabun Nuzul : studi pendalaman Al-quran surat Al-Baqarah-    Annas,Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,halm : 660
11. Tafsir Al-Maragi,Ahmad Mustafa Al Maragi,1993,semarang:CV Toha putra,halm 152-154.
12.
Shihab, M. Quraish, Logika Agama Kedudukan Wahyu & Batas-Batas akal Dalam Islam,            Jakarta : Lentera Hati, 2005
13. Jalaluddin, Teologi Pendidikan, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003,halm : 121
14. Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, Jakarta, 2000
15. Departemen agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahan Al-Jumanatul 'Ali, Bandung: CV penerbit       ART, 2005


Related Post :