Comments


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti, bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan/pemidahan dari cairan-cairan “germinal” (awal perkembangan) dari pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkungan pisis, psikologi,
maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari pada hereditas dan lingkungan. Agar kita dapat mengerti dan mengontrol perkembangan tingkah laku manusia, kita hendak mengetahui hakikat dan peranan dari masing-masing (hereditas dan lingkungan).
B.    Rumusan Masalah
Dalam pembahasan materi ini, dan agar tersusun secara sistematis dan efisien, maka timbulah bebrapa rumusan masalah, yang diantaranya :
1.    Apakah Pengertian Hereditas dan lingkungan ?
2.    Apa saja Pengaruh Hereditas dan lingkungan ?
3.    Apa Hubungan antara Hereditas dan lingkungan ?

C.    Tujuan dan Manfaat
Dalam membahas materi ini, tujuan yang dapat diambil adalah :
1.    Untuk mengetahui tentang hereditas dan lingkungan.
2.    Untuk mengetahui pengaruh  hereditas terhadap pertumbuhan,perkembangan dan
       proses   Belajar manusia
3.    Untuk mengetahui pengaruh lingkunan terhadap pertumbuhan,perkembangan dan
       proses Belajar manusia
4.    Untuk mengetahui hubungan antara hereditas dan lingkungan.













BAB II
PENBAHASAN
A.    Hereditas Dan Lingkungan
Pendidikan merupakan suatu proses ketika kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) hendak dikembangkan secara terus menerus. Kemampuan (bakat) merupakan faktor dasar, sedangkan kemampuan yang diperoleh merupakan faktor sebagai konsekuensi dari interaksi individu dengan lingkungannya. Faktor pertama dalam terminologi para psikolog dikenal dengan istilah “potensi bawaan” (heredity), sedangkan faktor kedua dinamakan dengan “lingkungan” (environment). (Baharuddin, 2010: 70-71)
1. Pengertian hereditas
Setiap individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Hereditas pada individu merupakan bawaan sejak lahir “specific genen. Bawaan/warisan atau hereditas tersebut berasal dari kedua orang tuanya (Genes) dan tidak dapat direkayasa. Bawaan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir membawa berbagai ragam warisan yang berasal dari kedua ibu-bapak atau kakek-nenek.
Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.
Sedangkan menurut Wikipedia, hereditas adalah pewarisan watak dari induk ke keturunannya baik secara biologis melalui gen (DNA) atau secara sosial melalui pewarisan gelar, atau status sosial.
Jadi, dapat dikatakan bahwa hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.
Berdasarkan uraian atau definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa:
a)    Hereditas adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biologis diwarisi oleh setiap anak dari orang tuanya melalui prises genetis.
b)    Hereditas itu akan membentuk perkembangan dengan memberikan/menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya yang akan diwujudkan melalui proses belajar dengan ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan.
2. Pengertian lingkungan
Pengertian lingkungan menurut psikologi ialah segala sesuatu yang ada di dalam  atau di luar individu yang bersifat mempengaruhi sikap, tingkah laku  atau perkembangannya. Lingkungan itu wujudnya dapat berupa benda - benda atau objek-objek alam, orang-orang dan karyanya serta berupa fakta-fakta  objektif yang terdapat  dalam diri individu, seperti kondisi  organ, perubahan -perubahan organ dan lain-lain.
Lingkungan juga terbagi menjadi tiga, yaitu :
1.    Lingkungan Dalam, meliputi gizi, peredaran darah, seks, suhu, kesehatan, dll
2.    Lingkungan Alam, meliputi iklim, geografis, waktu pagi,siang, dan malam.
3.    Lingkungan Sosial, meliputi keluarga, masyarakat, teman, dan organisasi.
Lingkungan dapat diartikan juga secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sisio-kultural.
1.    Secara fisiologis lingkungan diartikan yaitu meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh manusia.
2.    Secara psikologis lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulus (perangsan) yang diterima oleh individu sejak individu itu dilahirkan sampai mati.
3.    Secara sosio-kultural lingkungan diartikan yaitu mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain.

B. Pengaruh Hereditas dan Lingkungan Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
1. Pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan manusia
Ada banyak hal yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas seperti sifat pribadi manusia pada umumnya bergantung pada pengaruh kombinasi genes. Dalam sel-sel ayah dan ibu mereka ada bermacam-macam sel dikarenakan adanya pembiakan sel lalu sel-sel itu bertemu dan berinteraksi menghasilkan organisme baru yang memiliki sifat yang berbeda antara ibu dan ayah mereka.
Kakak-adik itu pada kenyataanya pasti memiliki perbedaan karena tingkat hereditas yang berbeda. Dalam saudara kembar ada pembagian yaitu Fraternal twins (kembar tumbuh dari sel telur berbeda) dan Indentical twins (kembar dari satu sel telur).
Tapi jika penentuan kembar tidak melihat cara lahirnya maka akan lebih mendekati indentical twins. Pada umumnya kembar itu terdapat dalam satu sel telur saja, makanya di dalamnya terdapat genes yang sama pula. Dengan demikian kembar ini lebih disebut sebagai duplikat yang sempurna tapi meski sempurna, hereditas dalam tubuhnya tetap mengalami perbedaan.
Untuk menggambarkan penjelasan mengenai mekanisme hereditas adalah adanya interaksi faktor yang dalam pasangan genes. Hal ini dapat diterangkan dalam banyaknya kasus tentang gen seperti albino, kebutaan, kebotakan,dan yang lainnya. Biasanya itu terjadi karena adanya faktor hereditas pada orang tua mereka. Jika orang tua keduanya membawa genes untuk albino maka keturunanya akan mengalami albino (kulit bule). Bila normal maka yang dibawa adalah pigmen asli atau normal (CC). Jika hanya salah satu yang membawa maka sebagian kulitnya akan mengalami bule atau albino (Cc) individu ini disebut dengan heterozygous. Individu pigmen normal dan albino disebut dengan individu yang homozygous.
Individu laki-laki dan perempuan ditentukan sepasang kromosom yang disebut the sex chromosomes. Dan dalam setiap kromosom ada pembagian yaitu kromosom X dan Y ini dimiliki oleh ayah sedangkan pihak ibu hanya memiliki kromosom X saja. Untuk memperoleh keturunan perempuan maka kromosom X dari ayah dan X dari ibu bertemu. Jika ingin memiliki laki-laki maka kromosom yang bertemu dengan kromosom ibu adalah kromosom ayah yang Y. Oleh karenanya penentuan ada tidaknya anak laki-laki yang dimiliki sebuah keluarga bergantung dari ada tidaknya pengaruh kromosom Y dari ayah.
Dalam perkembangan selanjutnya setiap individu pasti memiliki genes tersendiri. Dan genes itu berguna untuk menentukan bagaimana perkembangan individu selanjutnya. Jika kromosom X yang dimiliki lebih dominan maka akan tumbuh sifat wanitanya yang kuat. Sebaliknya jika yang Y maka kelelakiannya akan tumbuh dengan pesat. Makanya ada istilah waria (wanita-pria) dan prinita (pria-wanita) dikarenakan adanya hal itu. Semua hal yang berhubungan dengan fisik seorang individu pasti tidak lepas dari pengaruh hereditas.

2.      Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan manusia
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
1.    Keluarga
Keluarga memiliki peranan dalam upaya pengembangan pribadi anak perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nlai- nilai kehidupan, baik agama maupun social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada, umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga miskin. Jadi keluarga berpengaruh besar  terhadap pertumbuhan, terutama ekonomi rumah tangga serta kemampuan orang tua dalam merawat pertumbuhan jasmani anak.
2.    Sekolah
Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk kecerdasannya. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya menentukan pola pikir serta kepribadian anak.
3.    Masyarakat
Anak-anak yang dibesarkan di kota berbeda pola piker dan sikapnya dengan anak yang tinggal di desa. Anak kota umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban.
4.    Teman Sebaya
Kelompok teman sebaya mempunyai peranan yang cukup penting terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini yaitu :
1. Perubahan struktur kelurga, dari keluarga besar ke keluarga kecil.
2. Kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda.
3. Ekspansi jaringan komunikasi diantara kaula muda.
4. Panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa.
Aspek kepribadian remaja yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya adalah:
1.        Social cognitium: kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuan memahami orang lain berpengaruh kuat terhadap minat remaja untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya (sigelman&Shaffer, 1995: 372-376).
2.    Konformitas: motif untuk menjadi sama, sesuai, seragam, dengan nilai-nilai, kebiasaan, kegemaran (hobi), atau budaya teman sebayanya.
5.    Keadaan Alam sekitar
Kedaan alam sekitar tempat tinggal anak juga berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Alam tempat tinggal manusia memiliki bentuk yang berbeda, seperti pegunungan, dataran rendah dan daerah pantai. Keadaan alam sekitar adalah lokasi tempat anak bertempat tinggal. Sebagai contoh, anak yang tinggal di daerah pegunungan akan cenderung bersifat lebih keras daripada anak yang tinggal di daerah pantai, anak yang tinggal di daerah dingin akan berbeda dengan anak yang tinggal di daerah panas. Perbedaan di atas adalah akibat pengaruh keadan alam yang berbeda. Keadaan alam yang berbeda akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir atau kejiwaan anak.

C.      Pengaruh Hereditas dan Lingkungan terhadap Perkembangan Manusia
Tidak ada orang hidup semata-mata terpengaruh oleh hereditet atau lingkungan semata. Tidak mungkin jiwa manusia berkembang bila tidak ada kemampuan berkembang, maka untuk bisa berkembang harus ada potensi untuk berkembang walaupun tidak memberi kemungkinan berkembang, maka potensi itu tidak ada kenyataannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa manusia hidup tumbuh dan berkembang karean pengaruh hereditet dan lingkungan.
Herditet atau bawaan merupakan segala ciri, sifat, potensi dan kemampuan yang dimiliki individu karena kelahirannya. Ciri, sifat dan kemampuan-kemampuan tersebut dibawa individu dari kelahirannya dan diterima  sebagai keturunan dari kedua orang tuanya.
Individu memulai kehidupannya sejak masa konspesi, dan disitulah berlangsungnya proses penutunan sifat masa antara pembuahan dan pembelahaan sel merupakan saat berlangsungnya perpaduan dan penurunan sifat-sifat.
Ada dua kategori ciri atau sifat yang dimiliki oleh individu yaitu diri-ciri dan sifat-sifat yang menetap (permanent state) dan ciri atau sifat-sifat yang dapat berubah (temporary state). Permanent state seperti kecerdasan atau intelegensi dan bakat sedangkan temporary state merupakan yang bisa berubah seperti besar badan, sikap tubuh, kebiasaan, minat, ketekunan dan lain-lan.
Sifat kecakapan-kecakapan individu sebagian besar diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku individu. Lingkungan yang mempengaruhi perkembangan dan perilaku individu seperti lingkungan ekonomi, lingkungan politik, lingkungan keamanan dan lain sebagainya sehingga manusia mengambil pembelajaran dan pengalaman darinya sehingga perkembangan dan perilaku akan sesuai dengan lingkungan keberadaannya.

B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia
Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, para ahli berbeda pendapat lantaran sudut pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi mansuia tidak sama. Dalam hal ini, ada tiga aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia.
1.      Aliran Nativisme
Tokoh aliran ini bernama Arthur Schopenhauer 91788 – 1860) seorang filosof dari Jerman. Aliran Nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis karena berkeyakinan bahwa manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”. Seorang ahli yang bernama Noam A. Chomsky (ahli linguistik) beranggapan bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga oleh adanya “biological predisposition” (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir. Namun demikian, Chomsky tidak mematikan sama sekali peranan belajar dan pengalaman berbahasa, juga lingkungan tetapi pembawaan bertata bahasa jauh lebih besar bagi perkembangan manusia.
2.      Aliran Empirisme
Tokoh utama aliran ini adalah John Locke (1632 – 1704) nama asli aliran ini adalah  “The School of British Empirisem” (aliran empirisme Inggris). Namun aliranini lebih bepengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingag melahirkan aliran filsafat yang bernama “Anvironmendalisme” (aliran lingungan) dan aliran psikologi yang bernama “environmental psycology” (Psikologi lingkungan yang relatif masih baru).
Doktri aliran empirisme yang amat masyhur adalah “tabularasa” sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tabel). Doktrin tabuh rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu  semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabuka rasa, hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman / lingkungan yang mendidiknya.
3.      Aliran Konvergensi
Aliran ini merupakan gabungan antara aliran nativisme dengan aliran empirisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utam aliran ini bernama Louis William Stern (1871 – 1938), seorang filosof psikolog Jerman.
Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, aliran ini tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman kedua faktor yang sama pentingnya itu, faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dnegan harapan.
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku individu, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal merupakan segala sifat dan kecakapan yang dimiliki individu dalam perkembangannya, yang diperoleh dari hasil keturunan atau karena interaksi keturunan dengan lingkungan sedangkan faktor eksternal merupakan segala hal yang diterima individu dari lingkungannya.
Ada tiga faktor yang mempengaruhi perilaku individu :
a.       Faktor keturunan
Keturunan, pembawaan, atau heredity merupakan segalaa ciri, sifat, potensi dna kemampuan yang dimiliki individu yang dibawa kedua orang tuanya.
Individu memulai kehidupannya sejak masa konsepsi, yaitu masa terjadi pertemuan antara kedua sel tersebut, berlangsunglah proses penurunan sifat. Hal-hal yang diturunkan pada masa konsepsi barulah berupa potensi-potensi, bakal-bakal sesuatu atau sesuatu yang masih perlu dikembangkan. Pengembangan dari potensi atau bakal-bakal tersebut tidak bisa berlangsung dalam ruang lamma, tetapi selalu terjadi dalam sesuatu ruang atau lingkungan.
Ada dua kategori sifat yang dimiliki individu yaitu sifat yang menetap (permanent state) dan sifat yang bisa berubah (temporary state). Sifat-sifat yang menetap itulah yang dipandang sebagai pembawaan atau keturunan, seperti warna kulit, rambut, bentuk hidung, mata telinga, dan lain-lain. Sedangkan sifat yang bisa berubah seperti penakut, pemberani, periang dan lain-lain masih diragukan sebagai faktor pembawaan, karena kemungkinan besar masih bisa diubah oleh faktor lingkungan.
b.      Faktor lingkungan
Lingkungan alam dan geografis dimana individu bertempat tinggal mempengaruhi perkembangan dna perilaku individu. Perilaku yang diperlihatkan oleh individu bukan sesuatu yang dilakukan sendiri tetapi selalu dalam interaksinya dengan lingkungan. Demikian juga dengan sifat dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki individu sebagian besar diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan.
Perkembangan dan perilaku individu juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, yaitu lingkungan yang berkenaan dengan cara-cara manusia mengatur dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, lingkungan budaya juga berpengaruh. Lingkungan budaya merupakan lingkungan yang berkenaan dengansegala hasil kreasi manusia, baik hasil kreasi yang konkrit maupun abstrak, berupa benda, ilmu pengetahuan, teknologi ataupun aturan-aturan, lembaga-lembaga serta adat istiadat dan lain-lain.
Lingkungan lain yang tak kalah penting adalah lingkungan politik dan keamanan. Lingkungan politik berkenaan dengan bagaimana cara manusia membagi dan mengatur kekuasaan atas manusia yang lainnya. Lingkungan keamanan berkenaan dengan situasi ketentraman dan keterlindungan manusia dari ancaman dan gangguan-gangguan, baik dari sesama manusia, binatang maupun alam.


4.      Interaksi antara Pembawaan, Lingkungan dan Kematangan
Pengaruh faktor pembawaan dan lingkungan terhadap perkembangan dan perilaku individu besarnya relatif, tergantung pada aspek-aspek tertentu. Peranan kedua faktor tersebut tetap ada, hanya saja pada suatu aspek tertentu. Perkembangan suatu aspek merupakan hasil interaksi kedua faktor tersebut.
Disamping faktor pembawaan dan lingkungan, ada satu faktor penting lainnya yang ikut perpengaruh meskipun seorang anak memiliki pembawaan yang hebat dan dibesarkan dalam lingkungan yang serba lengkap dan baik, tetapi apabila suatu aspek belum matang atau belum siap untuk berkembang, maka tidak akan terjadi perkembangan.

D.      Pengaruh Hereditas dan Lingkungan terhadap Proses Belajar Manusia
Tempat anak diasuh dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, terutama keadaan ekonomi rumah tangga serta tingkat kemampuan orangtua dalam merawat yang sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan jasmani anak. Sementara tingkat pendidikan orang tua juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan rohaniah anak, terutama kepribadian dan kemajuan pendidikannya.
Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak, karena di sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.
Anak yang memasuki sekolah guru berbeda kepribadiannya dengan anak yang masuk STM. Demikian pula yang tamat dari sekolah tinggi akan berbeda pola pikirnya dengan orang yang tidak bersekolah.
Ø Sifat-Sifat
Sifat yang dimiliki seseorang adalah salah satu yang diwarisi oleh ayah ibu atau kakek dan nenek. bermacam- macam sifat yang dimiliki oleh sseorang misalnya saja sifat sabar, pemaaf, kikir, boros, dll.sifat-sifat tersebut dapat dilihat sejak dia masih kecil.
Ø Intelegensi
Istilah intelegensi berasal dari kata Latin intelligence yang berarti menghubungankan atau menyatukan satu sama lain(­to organize, to relate, to bind together) (Walgoti,1997). jadi Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti: abstrak, berpikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.

Ø Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol di antara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya berbentuk keterampilan atau suatu bidang ilmu, misalnya kemampuan khusus (bakat) dalam bidang seni musik, seni suara, olahraga, matematika, bahasa, ekonomi, teknik, keguruan, sosial, agama, dan sebagainya
Antara hereditas dan lingkungan terjadi hubungan atau interaksi. Setiap faktor hereditas beroperasi dengan cara yang berbeda-beda menurut kondisi dan keadaan lingkungan yang berbeda-beda pula. Selain dengan interaksi, hubungan antara hereditas dan lingkungan dapat pula digambarkan sebagai additive contribution. Menurut pandangan ini, hereditas dan lingkungan sama-sama menyumbang bagi pertumbuhan dan perkembangan fisiologi dan bahkan juga tingkah laku individu secara jointly (bersama-sama). Pertumbuhan dan perkembangan memerlukan kondisi kesehatan jasmani dan rohani anak.


























BAB  III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwasannya Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dalam (hereditas) dan faktor luar (lingkungan).     Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologi tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Meliputi, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, sifat-sifat, bakat, intelegensi dan penyakit.    Faktor eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar diri anak yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi anak tersebut dengan lingkungan. Meliputi: Lingkungan (dapat berupa pendidikan dan pengalaman yang diberikan).Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat, setiap hereditas beroperasi dengan cara berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan.   Pembawaan tidak akan berarti apa-apa tanpa didukung dengan lingkungan yang kondusif terhadap bawaaan itu sendiri.

























Daftar Pustaka
 
1.      Purwanto, Drs. M. Ngalim.1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
2.      Mar’at,Dr. Samsunuwiyati. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
3.      Azwar, Drs. Syaifuddin. 2000. Psikologi Intelegensi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
4.      Haditono, Siti Rahayu. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press
5.      Sardjoe, Drs. Psikologi Umum. Pasuruan Jatim : PT. Gaoeda Buana Indah
6.       Walgito, Bimo. 1980. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : FAK. Psikologi UGM
  1. Rohani, Ahmad.2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  2. Mustaqim, Abdul Wahid.Psikologi pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18213/4/Chapter%20II.pd
  4.  

Related Post :